LENSAINDONESIA.COM: Ratusan ton daging sapi impor ternyata masih beredar di Jawa Timur. Janji Gubernur Soekarwo untuk menghentikan impor daging jika harga daging sudah stabil ternyata tidak dijalankan.
Parahnya, kualitas daging impor yang beredar di Jawa Timur ternyata tak layak dikonsumsi. Bahkan, daging impor yang dinilai hanya cocok untuk makanan ternak itu sangat berbahaya bagi manusia.
Baca juga: Produk susu Jawa Timur mendominasi permintaan nasional dan Disnak Jatim ingatkan warga waspada penyakit kencing tikus
Pemerhati Daging di Jawa Timur, drh. Sigit Hanggono saat berbincang dengan LICOM, Kamis (12/12/2013) menyebut, kondisi daging impor yang beredar di Jawa Timur tidak layak dikonsumsi oleh manusia karena daging impor dari luar negeri ini biasa untuk makanan hewan.
“Itu di luar negeri sana daging beku yang dikirim ke Jatim itu diberi untuk makanan anjing, tapi di Jatim untuk dimakan manusia,” terang mantan Kadis Peternakan Jatim ini, Kamis (12/12/2013).
Jika dilihat dari aspek kesehatan, lanjutnya, daging impor tersebut tidak layak konsumsi karena yang dipotong adalah daging tua.
“Dikirim dengan kondisi beku tentunya banyak timbul hormon dan lemak yang tak baik dikonsumsi. Bisa dikata itu daging busuk,” ujar dia.
Sigit Hanggono menyesalkan adanya peredaran daging impor tersebut. “Sewaktu jaman saya menjadi Kepala Dinas Peternakan, itu sudah saya babat habis dilarang masuk. Tapi kok sekarang dibiarkan dan tidak dikontrol,” cetusnya.
Menurutnya, seharusnya Pemprov Jatim mendatangkan sapi impor daripada daging impor. “Kalau sapi impor semua bisa sejahtera, antara lain pedagang dan jagal sapi. Dan tentunya dagingnya layak konsumsi,” tandasnya.
Peredaran daging impor juga menjadi momok bagi para penjagal yang ada di Rumah Potong Hewan (RPH) yang tersebar di Jatim. Bahkan beberapa RPH terancam gulung tikar dengan kelangkaan sapi potong dan digerojoknya volume daging impor di pasaran.
Direktur RPH Pegirian Surabaya, Lutfi mengakui bahwa hingga saat ini di Surabaya konsumsi kebutuhan sapi potong sedang sulit dan mahal.
“Kami kesulitan sekali untuk memotong sapi hidup. Dari hari ke hari target potongan sapi jauh menurun. Sekarang ini kami hanya bisa memotong 150 ekor sapi per hari. Padahal sebelumnya sapi yang biasa kami potong mencapai 300 ekor per harinya,” ungkapnya.
Pihaknya sangat terganggu dan kecewa dengan kebijakan impor daging yang masih diberlakukan di Jatim. “Ini sangat berpengaruh di bisnis jagal. Apalagi ditambah kelangkaan sapi dan mahalnya harga bobot sapi hidup. Jika itu diteruskan, para jagal tak berani potong (sapi) lagi. Percuma juga dong kalo kita potong tapi tak laku, kalah dengan harga daging sapi impor yang jauh lebih murah,” jelasnya.
Diketahui harga daging sapi lokal segar yang ada di pasaran sekitar Rp 90 ribu/kg, sedangkan untuk daging sapi impor sekitar Rp 75-85 ribu/kg.@sarifa
from Portal Berita Indonesia - lensaINDONESIA.com http://www.lensaindonesia.com/2013/12/12/daging-impor-tak-laik-konsumsi-beredar-di-pasar-jawa-timur.html
via IFTTT






0 comments:
Post a Comment