LENSAINDONESIA.COM: Peserta Latihan Kesehatan (Latkes) tingkat 3 melaksanakan praktek menangani korban patah tulang dan penanganan pasien kegawat daruratan di Diskes Koarmatim, Ujung, Surabaya, Rabu (18/12/13). Pelajaran praktek didampingi Instruktur Lettu Laut (K) dr. Mega Nurmalasari W.P. yang sehari-hari menjabat Kepala Balai Pengobatan (BP) Ujung Selatan, Rumkital dr. Idris P. Siregar Diskes Koarmatim.
Materi pelajaran diantaranya adalah praktek menangani pasien patah tulang tertutup yakni bagian tulang yang patah tidak berhubungan dengan dunia luar, kemudian patah tulang terbuka yaitu bagian tulang yang patah berhubungan dengan dunia luar. Sedikitnya ada tiga cara penanganan patah tulang yaitu mengembalikan ruas-ruas tulang yang patah ke posisi semula (Reposisi), membuat ruas-ruas tulang tidak bergerak (Fiksasi/Immobilisasi) dan pemulihan fungsi tulang yang mengalami patah (Rehabilitasi).
Baca juga: Lanal Banyuwangi gelar latihan Gladi Tugas Tempur 2013 dan Panglima TNI terima ribuan personel Satgas TNI dari Lebanon
Untuk korban patah tulang tertutup dapat dilakukan tiga tahap penanganan dengan dilakukan pembidaian, memberi obat Antibiotika dan Analgetika kemudian segera evakuasi ke pos kesehatan terdekat untuk Reposisi dan pemasangan Gipsum. Sedangkan untuk korban patah tulang tertutup dapat dilakukan Resusitasi, hentikan pendarahan, tidak memasukkan kembali bagian tulang yang menembus kulit, menutup bagian tulang yang menembus kulit dengan kasa steril, merawat luka, memasang bidai sesuai lokasi patah tulang, memberikan Antibiotika dan Analgetika dan segera evakuasi korban untuk Debridement maksimal enam jam setelah kejadian.
Pada tahap pelajaran praktek peserta Latkes 3 menggunakan alat peraga berupa boneka sebagai simulator dan alat kesehatan untuk menangani korban patah tulang. Sebelumnya peserta telah mendapatkan pelajaran teori di kelas. Menurut dr. Mega Nurmalasari W.P., definisi patah tulang adalah hilangnya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang.
Adapun tanda-tanda dan gejalanya ada dua macam yaitu tanda tidak pasti dengan gejala bengkak (Local Swelling), pendarahan bawah kulit (Echimosis, Hematoma), nyeri lokal menetap (Localized Pain) dan bertambah nyeri bila digerakkan, terbatasnya gerakan tulang yang patah (Function Laesa) dan kelainan bentuk tulang (Angulasi), memendek (Shorting). Adapun tanda-tanda pasti adanya gerakan abnormal (False Movement), pergeseran ujung-ujung tulang yang patah pada perabaan (Krepitasi), tampak bagian tulang yang patah menembus kulit dan pada Rontgent tampak gambaran patah tulang.
Selain pelajaran tersebut pada tahap pelajaran praktek juga dilaksnakan praktek Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO). Materi yang diaplikasikan merupakan bagian dari pelajaran Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) dengan tujuan untuk mencegah kematian dan cacat (Tosavelive & Limb), Sistim rujukan (Referal System) dan penanganan korban bencana (Mass Disaster). Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 bertempat di Diskes Koarmatim, Ujung, Surabaya.
Maksud diselenggarakannya latihan kesehatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang penanganan korban dalam skala cukup besar dan segera dalam rangka dukungan kesehatan pada operasi militer terutama dalam hal komunikasi dan koordinasi antar unsur penanggulangan bencana. Sedangkan tujuannya adalah agar prajurit Diskes Koarmatim mampu menyelenggarakan kegiatan dukungan dan pelayanan kesehatan pada setiap kegiatan operasi dan latihan secara efektif, efisien dan terpadu dengan hasil yang optimal.
from Portal Berita Indonesia - lensaINDONESIA.com http://www.lensaindonesia.com/2013/12/18/peserta-latkes-tingkat-3-praktek-tangani-korban-patah-tulang.html






0 comments:
Post a Comment