Monday, 13 January 2014

Dilema Persebaya bermarkas di Surabaya masih belum terpecahkan


LENSAINDONESIA.COM: Belanja pemain besar-besaran, membuat manajemen Persebaya Surabaya mematok pemasukan cukup tinggi untuk laga kandang, yakni Rp 3oo juta tiap kali bertindak sebagai tuan rumah dalam kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2014.


Setidaknya, Persebaya bakal menjalani 10 kali laga kandang ISL selama mengarungi musim kompetisi 2014 wilayah Timur, seperti yang sudah ditetapkan PT Liga Indonesia. Itu berarti pemasukan Rp 3 miliar jadi target manajemen Persebaya.


Baca juga: Rahmad Darmawan siapkan dua skema saat ladeni Persiba Bantul dan Persebaya mengaku buta kekuatan Persiba Bantul


“Nanti per (laga) home targetnya Rp 300 juta,” kata Diar Kusuma Putra, Direktur Utama PT Mitra Muda Inti Berlian selaku pengelola Persebaya, saat di konfirmasi LICOM.


Tak bisa dipungkiri, Persebaya memiliki suporter fanatik yang dikenal dengan sebutan Bonekmania. Dengan demikian, bukan perkara sulit bagi Persebaya menarik ribuan atau bahkan puluhan ribu penonton saat melakoni laga home.


Sayangnya, belakangan ini muncul dualisme Persebaya yang membuat bonek, pendukung fanatik Persebaya pecah menjadi dua kubu. Hal itu ditambah lagi, Manajemen Persebaya merasakan adanya intervensi dari pihak ketiga, yang tidak menginginkan Persebaya tetap berada di Surabaya. Salah satunya adalah larangan berlatih di Stadion Gelora 10 November Surabaya.


Terkait dengan hal itu, Diar Kusuma Putra masih optimis segala persoalan bisa diatasi. Untuk itu, pihak manajemen Persebaya berniat melakukan pembicaraan langsung dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini karena agenda kandang Persebaya juga berpengaruh terhadap pemasukan Pemerintah Kota Surabaya.


“Kami merasakan ada intervensi dari pihak luar agar Persebaya tidak main di Surabaya. Kalau (intervensi) diikuti, Pemkot Surabaya akan rugi karena income stadion terbesar dari kompetisi resmi PSSI,” cetus Diar.


Diar menegaskan, saat ini sepakbola bukan lagi menjadi olahraga atau hiburan semata. Akan tetapi sudah menjadi ruang bisnis tersendiri. “Tim lain sudah mengarah kesitu (bisnis). Kalau diganggu, Persebaya akan ketinggalan,” ujar Diar Kusuma Putra.


Lantas, bila target pemasukan laga home terpenuhi, apa cukup untuk biaya akomodasi dan operasional tim? Diar menyebutkan, pemasukan dari menggelar laga home tentu tidak cukup untuk biaya akomodasi dan operasional dalam mengarungi pertandingan satu musim. Sehingga Persebaya masih membutuhkan sokongan dana dari pihak lain. “Makanya masih dibutuhkan sponsor,” ucap Diar Kusuma Putra.


Seperti diketahui, PT Liga Indonesia sudah menetapkan dua wilayah dalam menggelar kompetisi ISL musim 2014, berdasarkan hasil rapat Pleno yang berlangsung di Jakarta. @angga_perkasa


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript



sumber : Dilema Persebaya bermarkas di Surabaya masih belum terpecahkan

0 comments:

Post a Comment