Saturday, 18 January 2014

Veronica sang pakar lingkungan hidup, galau Manado tenggelam


LENSAINDONESIA.COM: Banjir bandang seperti Tsunami yang melanda Manado, Sulawesi Utara beberapa hari lalu diakui pakar Lingkungan Hidup Universitas Sam Ratulangi Manado, Veronica Kumurur sebagai bencana di luar prediksi.


Pasalnya, sejauh ini pihaknya dengan berbagai lembaga terkait sudah melakukan pelatihan waspada bencana Tsunami dari laut, namun yang datang ternyata tsunami dari darat.


Baca juga: Caleg perempuan harus bisa memperjuangkan kaumnya dan Caleg perempuan Nasdem, tak sekedar penuhi kuota 30 persen


“Aksi pencegahan sebelumnya sudah kita dilakukan. Tentang bagaimana perlindungan alam, melakukan Pendidikan SDM. Kami lakukan pelatihan Tsunami dari laut. Ternyata datang dari gunung,” kata Veronica di Warung Daun Cikini, Sabtu (18/1/14).


Dalam analisis Veronica, Banjir bandang yang menenggelamkan ratusan rumah penduduk di Manado paling tidak disebabkan faktor banyaknya kawasan resap air yang dijadikan lahan pemukiman dan industri. Juga akibat banyaknya bentang alam seperti pohon yang ditebang secara tidak bijak.


“Kawasan resapan air harusnya diserap ke tanah. Karena dibuat pemukinan jadi tidak diserap hingga cepat mengalir ke pemukiman penduduk,” sesal Veronica.


Lebih lanjut, Veronica memprosentasikan, bahwa saat ini di Manado hampir 50% wilayah serapan air sudah alih fungsi. Jika dibiarkan, tambah Veronica, bukan tidak mungkin angkanya akan mencapai 75%.


“Jika sudah capai 75 persen, saya pastikan Manado akan tenggelam,” papar Veronica.


Veronica menjelaskan, bahwa di Manado ada dataran tinggi tempat penyimpanan air. Letaknya di Tomohan dan Minahasa, yang bisa dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah dalam upaya pencegahan bencana alam serupa.


Upaya pencegahan ini, menurut Veronica, bisa meminimalisir penggunaan dana daerah jika pengelolaannya sudah dilakukan jauh hari sebelum bencana datang.


“Tentang dana sebenarnya kita tidak banyak butuh kalau aksi pencegahan sebelumnya dilakukan, masalah bagaimana perlindungan alam,” pungkasnya.


Sebelumnya, Banjir bandang menimpa sejumlah wilayah di Sulawesi Utara sejak Rabu (15/1/14) telah menelan 16 korban jiwa. Korban terbanyak di kota Manado 6 orang, disusul Kota Tomohon 4 orang, Kabupaten Minahasa 4 orang, dan Kabupaten Minahasa Utara 1 orang.


Banjir ini juga mengakibatkan ratusan rumah warga tenggelam hingga hanya atapnya yang tampak muncul kepermukaan. @firdausi


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript



sumber : Veronica sang pakar lingkungan hidup, galau Manado tenggelam

0 comments:

Post a Comment