LENSAINDONESIA.COM: Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau), Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, tantangan yang dihadapi TNI Angkatan Udara (AU), akan semakin berat. Kemajuan teknologi semakin pesat dan peran kekuatan udara dalam perang modern semakin diperlukan. Untuk itu profesionalitas, soliditas dan sinergitas diperlukan untuk menghadapi tantangan tersebut dan TNI AU siap menjaga stabilitas nasional, kedaulatan serta keutuhan NKRI.
“Sebagai salah satu komponen pertahanan negara, TNI Angkatan Udara terus berupaya mewujudkan TNI Angkatan Udara yang besar dan kuat untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI sebagaimana diamanatkan UU RI no 34 tahun 2004. Apabila diukur dengan kekuatan dan kemampuannya dalam mempertahankan wilayah NKRI. TNI Angkatan Udara mempunyai sejarah panjang dalam menjaga wilayah dirgantara. Minimum Essensial Force merupakan kebijakan yang tepat yang diambil TNI AU, seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis. Dapat diharapkan melalui pelaksanaan Renstra 5 tahunan, pertumbuhan dan perkembangan TNI Angkatan Udara ke depan mampu mewujudkan kekuatan tersebut,” kata Kadispenau, di Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (08/04/14)
Baca juga: Dansekkau pimpin Sertijab 3 jabatan Sekkau dan TNI AU mendukung pelaksanaan pendistribusian logistik Pemilu
Menurut Kadispenau, pembangunan kekuatan udara dalam rencana strategis 2010-2014, dilakukan melalui memodernisasi Alutsista dengan menambah beberapa pesawat yaitu 6 Sukhoi, 24 pesawat F-16, 16 Super Tucano, 16 jet latih tempur Korea T-50i, 9 pesawat angkut CN-295, dua CN-235, satu unit Cassa 212 angkut ringan dan tiga unit helikopter Super Puma dan enam unit Helly Full Combat SAR EC-725 Caugar. Dalam mendukung jembatan udara (airlift) dan operasi militer selain perang (OMSP), TNI AU juga menambah 9 pesawat angkut berat Hercules C-130 H yang sudah mulai tiba secara bertahap.
“Untuk menyiapkan penerbang, TNI AU juga telah mengganti jenis pesawat latih T-34 C dan AS-202 Bravo dengan pesawat generasi baru Grob G-120 TP dari Jerman. Sebelumnya juga telah menerima pengoperasian pesawat latih KT-1B Wong Be dari Korea yang telah digunakan untuk tim aerobatik “Jupiter” sebanyak satu Skadron yang telah mengukir prestasi dibeberapa air show internasional,” ujarnya.
Disamping itu, pada tahun ini TNI AU juga akan menambah armada pesawat terbang tanpa awak (UAV) untuk operasi pemantauan perbatasan yang dipusatkan di Lanud supadio, Pontianak. Dalam sebuah sistem pertahanan, dibutuhkan pertahanan berlapis yang menurut teori terdiri dari, radar, peluru kendali, pesawat tempur sergap dan meriam penangkis serangan udara (PSU) dan TNI AU telah menambah tiga baterai /enam firing unit buatan Reinmetall Air Defence Switserland untuk satuan-satuan Korpaskhas dan menempatkan beberapa radar di kawasan Timur Indonesia untuk menutup dan memonitor pergerakan pesawat asing yang terbang melintas tanpa ijin.
“Kebutuhan lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengadaan peluru kendali tambahan sebagai detern terhadap kekuatan negara asing yang ingin memasuki wilayah udara nasional Indonesia.
Dibawah kepemimpinan Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia pemegang Adhi Makayasa (peringkat tertinggi taruna) dan juga seorang penerbang tempur handal, TNI AU dimasa mendatang akan semakin kuat dan percaya diri, serta menjadi kekuatan pertahanan yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara,” pungkasnya. @winarko
sumber : Dalam 10 tahun kedepan, tantangan TNI AU akan semakin berat






0 comments:
Post a Comment