LENSAINDONESIA.COM: Menteri BUMN Dahlan Iskan mengingatkan pola kerja wartawan yang menggunakan handphone atau smartphone sebagai alat perekam saat wawancara, akan semakin membahayakan profesionalitas jurnalistik.
Pasalnya, alat teknologi canggih itu sudah memperdayai kreatifitas jurnalis. “Handphone membahayakan
profesional jurnalistik. Buat jurnalis dimanjakan sekali,” kata Dahlan Iskan saat dikuntit LICOM seusai keluar lift menuju Lobby di Kementrian BUMN, Jum’at (17/1/14).
Baca juga: Dahlan Iskan: Mungkin Dirut Merpati takut sama wartawan dan Dahlan Iskan: Saya tidak akan lari dari kondisi buruk Demokrat
Big boss media Jawa Pos Group ini, menilai bahwa handphone juga bisa membuat wartawan mudah menyerah dalam memburu
narasumber.
“Wartawan sekarang main handphone. Jadi kalau (narasumber) dihubungin tidak bisa, sudah menyerah,” kritik Dahlan.
Menteri BUMN Dahlan Iskan sepertinya galau mencermati perkembangan profesionalitas maupun prilaku wartawan
di tanah air terkini. Karenanya, Dahlan menilai teknologi alat rekam seperti smartphone selain memberi kemudahan,
sekaligus mengancam kegigihan maupun daya kreatifitas jurnalis.
“Saya sering tercerahkan, dan terinspirasi setiap mewawancarai Pak Dahlan,” kata Aini, reporter salah satu media
online soal “warning” Dahlan Iskan itu.
Dalam pandangan awak media yang biasa mewawancarai Menteri Dahlan Iskan, mereka merasakan ada perbedaan mendasar dibanding pengalaman mewawancarai menteri-menteri pada umumnya. Bukan cuma lantaran Capres Konvensi Demokrat ini punya setumpuk jurus trik-trik bagaimana cara berkelit menghadapi pertanyaan maupun sikap wartawan. Tapi sebaliknya, karena setiap diwawancarai, awak media mengaku seperti berasa menghadapi guru wartawan yang piawai memosisikan sebagai figur menteri.
Saat ditanya satu pertanyaan, misalnya, Dahlan menjawab secara runtut ibarat paragraf sebuah berita, bahkan bisa jadi satu sampai dua topik berita, bahkan lebih.
Malahan, Menteri BUMN ini juga tidak segan-segan tersirat mengarahkan awak media yang mewawancarainya. Terkait
“warning”-nya bahwa teknologi rekam seperti smartphone membahayakan, mantan wartawan Tempo tahun 80-an ini menceritakan pengalamannya saat menjadi wartawan di salah satu media cetak.
“Saya dulu jadi wartawan belum ada handphone. Jadi wartawan terpaksa nongkrongin harus sabar, sampai jam lima pagi,” ceritanya, kali ini, di dalam Lift Kementrian BUMN.
“Ini keenakan ada handphone, wartawan sekarang enak. Kita dulu harus wawancara gak ada handphone,” cerita Dahlan,
membandingkan pada eranya sebelum ada teknologi seluler, hanya mengandalkan rekaman daya ingat dan corat-coret di kertas. Apalagi, kala itu narasumber juga tidak semua mau dan terbiasa diwawancarai via telepon.
Dahlan mengritisi kegigihan wartawan sekarang, karena merespon keluhan para awak media yang biasa mencari berita di lingkungan Kementerian BUMN, yang hari-hari belakangan ini, kesulitan menghubungi Dirut PT Merpati Capt Asep Ekanugraha.
Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines itu memang dianggap wartawan, seolah tidak mau menjawab setiap ditelepon, SMS, atau pesan BBM. Ini terkait soal kenapa belum menjalankan instruksi Menteri BUMN untuk mendirikan anak perusahaan baru guna kemudahan Kerjasama Operasi (KSO) dalam mendapatkan stakeholder.
Beberapa Wartawan berulang kali mencoba menelpon, SMS maupun pesan singkat Blackberry Massenger (BBM) dan SMS,
bahkan juga berupaya menemui di kantornya, namun Dirut PT Merpati itu lagi-lagi seolah menghindar.
Sebaliknya, Menteri Dahlan Iskan, malah menganjurkan wartawan menyanggong di depan pintu kantor Direktur Utama PT
Merpati itu. Dengan begitu, Capt. Asep Ekanugraha tidak bisa menghindari wartawan.
“Wartawannya kurang gigih, makanya harus gigih. Aduh, tungguin di depan pintunya,” kritik Dahlan, Senin lalu (13/1/14). @rina
sumber : Dahlan ingatkan smartphone bisa bahayakan keprofesionalan jurnalistik






0 comments:
Post a Comment