LENSAINDONESIA.COM: Dugaan skandal suap dalam sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar kian kencang diperbincangkan.
Ini setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap komunikasi via Blackberry Massenger (BBM) antara Akil Mochtar dengan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur, Zainudin Amali yang isinya meminta meminta pasangan Gubernur Jatim Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) menyiapkan dana sebanyak Rp 10 miliar agar bisa menang di MK.
Baca juga: Kasus Akil Mochtar tak akan berpengaruh pada pelantikan KarSa dan Inilah isi percakapan BBM Akil Mochtar 'atur' suap Pilgub Jatim
Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi mengaku heran saat mengamati dugaan suap sengketa Pilgub Jatim tersebut.
Pasalnya, dalam komunikasi BBM antara Akil Mochtar dengan Zainuddin Amali dilakukan untuk membahas kasus Pilgub Jatim dengan menyebut keterlibatan berbagai petinggi Golkar. Padahal posisi Golkar dalam pilgub Jatim hanya sebagai pendukung pasangan Incumbent KarSa.
Menurut dia, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan transaksi politik yang berlangsung dan dijalankan oleh para petinggi elit Golkar di Jawa Timur terkait dengan pemenangan tim KarSa yang diusung Partai Demokrat.
“Peran aktif Zainudin berkomunikasi dengan Akil sangat janggal. Padahal posisi Golkar hanya sebagai partai pendukung. Terlihat Partai Golkar mengambil peran melebihi Partai Demokrat,” katanya saat dihubungi, Jumat (17/01/2014).
Kejanggalan tersebut, lanjut Airlangga patut menjadi perhatian dari KPK.
“Bisa jadi ada konsesi politik dibalik itu, dan itu tugas KPK untuk mengungkapnya,” pungkas kandidat doktor ilmu politik dari Murdoch University, Australia itu. @ridwan_licom
sumber : Dugaan suap Pilgub Jatim, peran Golkar melebihi Demokrat






0 comments:
Post a Comment