Wednesday, 22 January 2014

Masalah gizi pada anak perlu adanya penanganan dini


LENSAINDONESIA.COM: Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus di wujudkan sebagaimana amanat Pancasila dan Undang-Undang tahun 1945 untuk mewujudkan hak asasi tersebut, maka upaya mencapai status gizi anak yaitu mulai dari janin sampai usia 18 tahun yang optimal merupakan hal yang sangat penting. Demikian disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Dr.Anung Sugiantono M Kes saat membuka SOHO #Better U Hari Gizi Nasional di Jakarta, Rabu (22/01/14)


“Dalam menentukan arah perbaikan gizi pasal 141 Bab VIII UU Nomer tahun 2009tentang menetapkan tujuan perbaikan gizi yaitu untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyakat. Selanjutnya pasal 142 menekankan perbaikan gizi pada seluruh siklus kehidupan dengan prioritas kepada bayi balita, remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui,” kata Anung.


Baca juga: Permasalahan HIV/AIDS sangat erat dengan aspek perilaku anggota TNI dan Jokowi, harus segera dirampungkan kekurangannya


Anung mengatakan, perbaikan gizi memiliki dampak besar terhapap kesehatan ibu, contohnya keberhasilan penanggulangan anemia pada ibu hamil akan mengurangi 23 persen angka kematian ibu melahirkan. Begitu juga pemberian kalsium pada ibu hamil akan menurunkan 19 persen kematian ibu melahirkan.


“Dampak masalah gizi terhadap kecerdasan seperti seorang anak mengalami gangguan akibat kekurangan iodium akan mengalami kehilangan kecerdasan sebesar 10-50 IQ,begitu juga dengan anemia pada anak balita akan menurunkan kecerdasan sebesar 5-10 IQ point,” ujarnya.


Secara garis besar,menurut Anung, masalah gizi yang secara pubilc health terkendali yakni kekurangan vitamin A dan gangguan akibat kurang iodium. Secara nasional masalah defesiensi vitamin A berada dibawah 0,13 persen lebih rendah dari batas masalah kesehatan masyarakat yaitu 0,5 persen. Keberhasilan mengatasi masalah defesiensi vitamin A ini terjadi di seluruh Kabupaten/Kota.


“Masalah yang belum dapat diselesaikan (un –finished agenda) yaitu masalah Stuting dan Gizi kurang pada anak Balita. Saat ini prevelensi stunting mencapai 37,2 persen dan gizi kurang mencapai 19 persen. Persoalan ini merupakan tantangan bagi kita semua karena masalah stunting dan gizi kurang tidak bisa di kerjakan secara sendiri oleh jajaran kesehatan. Masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat yakni maslah kelebihan gizi, meskipun terjadi pengurangan anak balita kelebihan gizi dari 14,0 persen tahun 2010 menjadi 11,9 persen tahun 2013 tetapi persoalan ini masih serius karena memicu penyakit tidak menular pada usia lebih muda,” jelasnya.


Sementara itu Dokter Spesialis Gizi Dr.Laila Hayati, M Gizi,SpGK. Masalah gizi di Indonesia yang saat ini memasuki masalah gizi ganda artinya masalah gizi belum teratasi sepenuhnya. Selain itu, masalah gizi lainnya kerap muncul adalah perawakan pendek pada anak bedasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 pada anak di usia 6-12 tahun, prevelensi anak kependekan 25,6 persen,anak kekurusan 11,2 persen dan anak kegemukan 9,2 persen. Jadi partisipasi orang tua untuk memastikan anak terhindar dari masalah gizi.


“Kasus gizi kurang bertambahnya usia anak tidak disertai penambahan berat badan dan banyak kasus gizi kurang bisa disebabkan karena anak tersebut kekurangan zat besi. Idealnya ketika anak bertambah umur bertambah juga berat dan tingginya. Namun, nutrisi yang tidak seimbang menyebabkan anak tidak mengalami pertambahan berat badan mencapai berat badan ideal,”kata Dr Laila. @winarko


alexa ComScore Quantcast

Google Analytics NOscript



sumber : Masalah gizi pada anak perlu adanya penanganan dini

0 comments:

Post a Comment