LENSAINDONESIA.COM: Politikus PDI Perjuangan Adian Napitupulu mempertanyakan sikap sejumlah tokoh politik yang tiba-tiba saja menyarakan perikemanusiaan menjelang eksekusi mati sembilan terpidana mati yang terlibat kasus narkoba. Ia pun menggugat perikemanusiaan yang dibela para pembela terpidana tersebut.
“Saya tidak setuju hukuman mati tapi, tadi tiba-tiba perut saya mual membaca komentar-komentar tokoh politik yang untuk kasus Mary Jane tiba-tiba menjadi sangat ber-perikemanusiaan,” katanya dalam rilis, Senin (27/4/2015).
Baca juga: Ini surat terbuka Anggun pada Jokowi agar batalkan eksekusi mati dan Anggota DPR ini juga tolak eksekusi terpidana mati gembong narkoba
Ia mengatakan para tokoh politik yang mendadak ber-prikemanusiaan itu lupa bahwa selama belasan tahun mereka tidak pernah bicara kemanusiaan saat TKI disetrika wajahnya di negara tetangga. Atau diperkosa atau pulang dalam kantung mayat dengan organ tubuh yang hilang entah kemana.
“Apakah tiba-tiba mereka menjadi ber-perikemanusiaan karena mukjizat Tuhan atau karena takut pada ancaman Prancis atau mungkin ukuran kemanusiaan mereka diputuskan oleh Prancis,” kecamnya.
Bahkan PBB, kata Adnan, juga ikut-ikutan mengecam hukuman mati Mary Jane. Kecaman itu keluar empat hari setelah Jokowi di Konferensi Asia Afrika mengkritik PBB yang banyak diam dalam banyak aksi kekerasan oleh negara
Eropa.
“Anehnya bagai skenario, kecaman PBB itu saling sahut dengan Perancis dan para tokoh politik kita. “Situasi yang 100 persen mirip serangan terhadap Soekarno setelah ia berpidato ‘Amerika kita setrika, Inggris kita Linggis’,” ujarnya.
Adnan mengatakan Mary Jane serupa dengan Wati, Rani, Siti dan banyak TKW yang juga menjadi korban human traficking. “Tidak salah membela Mary Jane tapi tentu kita lebih wajib membela Wati, Rani, Siti dan ratusan ribu TKW yang jadi ibu dari jutaan anak Indonesia,” ketusnya.
Membela Mary Jane adalah tugas kemanusiaan yang lahir dari hati bukan karena ancaman negara lain. Membela Mary Jane adalah tugas mulia yang sama mulianya dengan mengungkap pembantaian di tahun 1965, atau puluhan nyawa yang hilang di Tanjung Priok 1984. Ataupun mengungkap 13 aktivis yg diculik, serta tentunya 18 mahasiswa yang gugur di Trisakti, Semanggi, Jogja, Lampung dan
Palembang.
“Semoga besok para tokoh politik yg saat ini menikmati kursi, jabatan dan fasilitas yang luar biasa itu menjadi sadar bahwa semua mereka nikmati tidak karena Mary Jane. Tapi karena nyawa 18 mahasiswa yang hingga kini tak pernah mereka bela,” kata Sekjen PENA 98 tersebut.
“Semoga untuk mengungkap kematian 18 mahasiswa itu kita tak harus menunggu ancaman dari Prancis, Australia atau PBB. Venceremos Democratia,” pungkasnya.
Sebelumnya, mantan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat menyampaikan permintaan permohonan kepada Presiden Joko Widodo melalui surat terbuka agar membebaskan Mary Jane, WN Filipina yang masuk dalam daftar eksekusi mati. Ia mengatakan pembatalan eksekusi terhadap Mary Jane takkan mengurangi kewibawaan Presiden Jokowi.
Sekjen PBB Ban Ki-moon juga menyatakan kasus narkoba bukan kejahatan luar biasa. Uni Eropa juga mengatakan bahwa eksekusi terhadap gembong narkoba Sergei Atloui bukanlah jawaban dalam perdagangan narkoba.@sita
sumber : Adian Napitupulu menggugat “Perikemanusiaan” pembela terpidana mati






0 comments:
Post a Comment