LENSAINDONESIA.COM: Bencana banjir yang melanda Ibukota Jakarta tak hanya membawa tekanan sosial-ekonomi bagi masyarakat. Tekanan politik pun tak lepas dari bencana banjir ini.
Tekanan politik ini dirasakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dinakhodai Joko Widodo (Jokowi). Hal ini tak lepas dari posisi Jokowi yang disebut-sebut sebagai Capres potensial pemenang Pipres 2014.
Baca juga: Laode Ida: Daya pikat Jokowi belum sebanding kemampuan hadapi banjir dan Status bencana nasional pintu masuk bancaan dana cadangan
Salah satu tekanan politik itu berupa desakan agar Jokowi menyatakan permintaan maafnya karena tidak bisa menangani bencana banjir Jakarta. Desakan permintaan maaf ini dilontarkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M. Romahurmuziy.
Melihat situasi politik ini, Politisi PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno meminta Jokowi tak perlu mendengarkan intrik-intrik politik tersebut.
Hendrawan Supratikno malah menyarankan Jokowi untuk terus bekerja keras dalam menangani bencana banjir Jakarta.
“Saya kira kalau pernyataan minta maaf itu sarat dengan muatan politik. Seakaan-seakaan pengakuan adanya kegagalan, tetapi Jokowi mengakui bahwa di pimpinannya belum bisa maksimal,” kata Hendrawan Supratikno pada LICOM di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (21/01/2014).
Menurut anggota Komisi VI DPR RI ini, persoalan banjir Ibukota seharusnya menjadi perhatian bersama dan tidak menjadi bahan saling menyalahkan.
“Jangan saling menyalahkan. Emangnya Jokowi Superman? Kalau Superman, dia bisa pindahkan tembok Cina buat bendungan Jakarta. Bekerja lebih keras, tindakan itu berbicara lebih banyak, tidak perlu minta maaf,” bebernya.
Meski begitu, tekanan politik tersebut bisa dijadikan bahan masukan bagi Jokowi agar lebih rendah hati dan mawas diri dalam menjalankan tugasnya. “(dengan) Banjir ini diharapkan Jokowi rendah hati,” pungkasanya@endang
sumber : PDI Perjuangan: Jokowi tak perlu minta maaf soal banjir






0 comments:
Post a Comment